Inilah 7 Pengalaman Unik Saat Ramadhan di Masa Kecil yang Kamu Rindukan

Inilah 7 Pengalaman Unik Saat Ramadhan di Masa Kecil yang Kamu Rindukan 

Buku Tugas untuk Mencatat Kegiatan Ramadhan


Inilah 7 Pengalaman Unik Saat Ramadhan di Masa Kecil yang Kamu Rindukan


Biasanya kedatangan bulan suci Ramadan ditandai dengan dibagikannya buku Ramadan di sekolah. Buku ini mengharuskan kamu mencatat ceramah saat tarawih atau kuliah subuh.Tak lupa kamu harus meminta tanda tangan dari ustadz penceramah. Selepas tarawih, ustadz dikerubungi oleh anak-anak untuk meminta tanda tangan, layaknya artis dengan fans. Ada juga tabel berisi urutan salat wajib yang harus dicentang sesuai salat yang dilaksanakan. Jangan lupakan tabel jumlah hari puasa. Kamu tidak bisa curang karena harus ada tanda tangan orang tuamu.

Adakah di antara kamu yang merindukan buku tipis ini? Sekarang, meskipun kamu tidak harus mencatat ceramah yang kamu dengar, kamu bisa membagikan wawasan Islam tersebut melalui Twitter atau status Facebook. Akan lebih menyenangkan ketika semakin banyak orang yang bertambah pengetahuan agamanya karena kamu.

“Inget banget dulu, itu buku digulung-gulung masukin kantong celana langsung deh berangkat tarawih." Reza, 22 tahun, mahasiswa.


Pawai yang Membuatmu Selalu Menanti Waktu Sahur



Pawai yang Membuatmu Selalu Menanti Waktu Sahur


Photo credit: antaranews.com
Waktu sahur di masa kecil diwarnai dengan kentongan dan keliling kampung. Setelah makan sahur di rumah, dengan sigap kamu mengambil kentongan dan sarung lalu bersama teman-teman keliling komplek membangunkan warga lain untuk santap sahur. Betapa bahagianya dulu berjalan beramai-ramai memukul kentongan. Mungkin kamu juga selalu menyanyi dengan keras sepanjang jalan. Meskipun tidak seramai dulu, kamu sekarang menikmati sahur dengan teman satu kos. Kalian bergantian membangunkan sahur dan memasak nasi serta lauk-pauk. Tugas saat sahur yang dulu diharuskan membangunkan warga lain, sekarang menjadi menjadi membangunkan sahur teman-teman satu kos.
“Dulu keliling kampung bareng anak-anak lain mukul kentongan nggak capek tuh, sekarang jalan dari kasur ke dapur aja udah ngeluh-ngeluh.“ Riani, 22 tahun, mahasiswi.

Perang Sarung yang Mendebarkan

Perang Sarung yang Mendebarkan

Photo credit: sijuki.com
Bagaikan pejuang kemerdekaan yang membawa bambu runcing, ‘senjata’mu adalah sarung terbaik yang baru dicuci dan disetrika oleh ibu. Bukan hanya untuk salat tarawih, tapi untuk perang sarung dengan teman-temanmu. Seusai buka puasa, kamu akan segera berlari ke masjid agar tidak ketinggalan pertarungan seru ini. Meskipun kamu harus menanggung resiko dimarahi oleh orang-orang yang lebih tua, tetapi kamu jadi lebih bersemangat untuk pergi ke masjid.
“Gue inget banget perang sarung pas salat. Kangen deh gue sama jaman-jaman kecil. Gue lihat sekarang anak kecil udah nggak ada yang perang sarung, yang ada pada perang komen di instagram“ , Dona, 23 tahun.

Tarawih Dengan Tenang



Dulu, pikiranmu hanya fokus pada kegiatan tarawih dan kegiatan setelah tarawih yang menyenangkan seperti perang sarung. Pikiran terberat yang mungkin kamu pikirkan adalah buku ramadhanmu belum ditandatangani oleh pak ustadz. Sekarang, kamu selalu dihantui oleh tugas kuliah atau pekerjaan di kantor. Selesai tarawih pun kamu masih harus berkutat dengan paper atau bahan presentasi. Tarawihmu pun menjadi tidak tenang dan membuatmu kurang bersemangat. Kabar baiknya, kamu harus tetap bersyukur karena bisa produktif pada bulan Ramadhan.

Ngabuburit di Masjid


Photo credit: memo-x.com

Biasanya selama bulan Ramadan, masjid mengadakan kegiatan mengaji bersama selepas ashar sampai waktunya buka puasa. Mengaji di sini tak melulu membaca Al-Quran kadang disisipi dengan cerita nabi dan rasul atau diskusi bersama pak ustadz. Sewaktu kecil, kegiatan ini dinantikan karena selain ajangmu untuk berkumpul besama teman sebaya, juga karena peserta pengajian akan mendapatkan takjil gratis. Lalu kamu akan berebut dengan temanmu demi mendapat kue paling besar. Padahal, kalau dipikir-pikir lagi sekarang, semua kue besarnya sama saja.
Dulu sewaktu kecil kamu tidak perlu check-in di media sosial kalau kamu pergi ke masjid untuk datang pengajian. Sekarang, ketika kamu datang pengajian ke masjid, kamu malah sibuk dengan selfie, tweet, atau bahkan snapchat. Walaupun sah-sah saja jika kamu ingin menunjukkan mukena barumu, lebih baik kamu imbangi postmu dengan cerita tentang keindahan masjid yang kamu datangi. Dengan demikian, teman-temanmu ingin ikut mengunjungi masjid itu.

Tadarus Selepas Tarawih


Photo credit: pinterest
Selepas tarawih kamu beserta beberapa teman terutama laki-laki akan tadarus di masjid sampai malam larut. Kamu dan teman-temanmu berlomba-lomba membaca ayat paling panjang dan mendapat kesempatan paling lama. Biasanya suaramu akan diperdengarkan melalui speaker masjid. Kamu akan berusaha mengaji dengan suara yang merdu agar dipuji oleh ayah dan ibu.
Mungkin berbeda dengan sekarang, selepas tarawih yang kamu lakukan hanya menelusuri media sosial hingga tertidur. Barangkali kamu harus mengembalikan kebiasaan itu. Adakan kompetisi mengkhatamkan Al-Quran dengan teman-temanmu. Buat pertemuan setiap hari atau dua hari sekali untuk mengevaluasi dan memperbaiki bacaan kalian

Jajanan di Sekitar Masjid

Selama tarawih biasanya penjual makanan ringan ikut salat, setelah tarawih bapak penjual segera melayani pembeli setianya yang sebagian besar merupakan anak-anak. Tak ketinggalan kamu juga ikut mengantri. Jajan setelah tarawih ikut mewarnai malam-malam ramadhanmu. Kamu membeli beberapa makanan ringan sambil menunggu masjid sepi untuk kemudian kamu tadarus Qur'an.

Warung-warung sengaja menyediakan berbagai makanan ringan khusus untuk anak-anak. Kalau selama siang hari kamu tidak bisa membeli makanan-makanan ini, maka selepas tarawih adalah saat ‘balas dendam’ bagimu. Selama jajan ini kamu akan bertemu dengan teman-temanmu dan kalian akan menghabiskan waktu sejenak nongkrong untuk mendiskusikan jajanan baru yang ada di warung. Kalau sekarang, selepas tarawih kamu mungkin akan langsung saja melesat pulang karena tak sabar untuk bertemu TV dan wifi di rumah.

“Dulu ada warung di sebelah masjid yang jual makanan ringan enak banget, sekarang warungnya udah tutup. Abis tarawih semangat banget ke warung itu. Padahal kangen sama jajanan-jajanan dulu, sekarang udah pada nggak ada warungnya diganti sama supermarket“, Sri, 22 tahun, wirausaha.
Kamu mungkin tidak bisa mengulang masa kecilmu tapi kamu bisa mengulang kegiatan-kegiatan yang dulu kamu lakukan selama Ramadhan. Coba mulai kurangi interaksimu dengan pekerjaan dan perbanyak membaca Al-Quran. Datangi kembali masjid yang sudah kamu tinggalkan dan coba bertahan mendengarkan ceramah selama tarawih. Momen ramadhan seharusnya menjadi sangat dinanti untukmu memperbanyak amalan bukan memperbanyak posting dan curhat di media sosial saja. Semoga berkah ramadhan menyelimuti kita semua.

( https://today.line.me/id/article/795af576d535418f177e13cb58a16c693bad7e64f8ec6277d6ebd31f7caf808a )

0 Response to "Inilah 7 Pengalaman Unik Saat Ramadhan di Masa Kecil yang Kamu Rindukan"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel